Aquasprite Theme Demo

INDONESIA BERSATU

, Posted by - at Senin, Agustus 31, 2009

“Soekarno yang murka karena hal itu (merobek-robek foto Soekarno, dan lambang negara Garuda Pancasila diinjak) mengutuk tindakan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia pertama, yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia”.

Sejarah yang telah lebih 60 tahun tersebut kembali terulang. Malaysia tidak menjadi negara boneka yang akan menambah kontrol penjajah di daerah asia tenggara. Malaysia telah berubah menjadi negara maju dengan topangan sektor jasanya yang cemerlang, seperti pariwisata, perbankan dan pendidikan. Presiden RI Soeharto pernah mengirim ribuan guru, dokter dan perawat ke Malaysia pada awal tahun 1970an. Banyak juga dosen-dosen Indonesia mengajar di Malaysia. Pada dekade 1970an, tenaga pendidik dan terampil banyak dikirim ke Malaysia. Namun pertengahan dekade 1980an, situasi berbalik, justru tenaga buruh dan kasar yang semakin banyak dikirim ke Malaysia.

Pertumbuhan malaysia yang semakin baik tidak membuat mereka ingat akan bantuan saudara dekatnya dahulu. Mereka semakin menjadi-jadi dengan beragam kesombongan mencaplok kebudayaan dan kekayaan Indonesia. Mereka beralasan bahwa Malaysia-Indonesia masih serumpun dan punya banyak kesamaan dalam bersikap dan berbudaya. Pendapat yang sangat menyimpang bila kita melihat keberagaman suku yang kita miliki dari “Sabang sampai Merauke”. Total lebih dari 30 kekayaan budaya diambil dan dipatenkan oleh pihak asing dan lebih dari 80 % adalah Malaysia. Sesuatu yang kecil bila kita bandingkan dengan jumlah kebudayaan kita yang jumlahnya sangat banyak dan terancam diambil alih kembali bila kita tidak segera ambil langkah cepat untuk segera mengamankannya.

Kelemahan-kelemahan yang dibuat oleh bangsa Indonesia sendiri akibat belum bisa lepas dari budaya “Neo-Feodalisme”. Suatu paham sekelompok kecil orang (elit dan birokrat) yang menguasai hidup orang banyak dengan mengatur hak dan kewajiban bawahannya dengan semaunya. Bila praktik birokrasi masih bercorak demikian, bisa dijamin negara atau suatu bangsa akan sulit meraih kemajuan. Perbaikan di berbagai sektor wajib dilakukan, untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dengan negara-negara lain.

Perbaikan di sektor pendidikan harus menjadi pemicu utama dan memiliki biaya yang paling rendah untuk menjadi bangsa yang berdaulat. Kesehatan, pembangunan dan ketahanan nasional akan menyusul seiring peningkatan SDM yang semakin berkualitas. Fasilitas yang kita miliki sangat timpang di berbagai daerah, pemerataan masih jauh dari harapan. Pengelolaan SDA masih dikuasai segelintir orang yang menjadi raja-raja kecil baru di daerah.

Saat ini dengan berbagai keterbatasan kita, hanya NASIONALISME saja yang dapat menyatukan hati dan perasaan kita. Singkirkan dahulu utopia yang sering didongengkan oleh nenek moyang kita, sekarang kita berada di dunia nyata dengan peperangan berlatar modern dengan kondisi yang sedang sakit. Bersatulah INDONESIA, MARI BUNG REBUT KEMBALI


Oleh : Jimmi Alberto (Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan Masa bakti 2008-2009)












Bookmark and Share

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar